Embes Desa Jegreg

Ini adalah cerita ketika saya berada di bangku SD Desa Jegreg, main embes, dengan teman-teman sebaya.

Ini adalah cerita ketika masih berada di bangku SD Desa Jegreg. Main embes, dengan teman-teman. Istilah 'embes'  sendiri adalah dari bahasa Jawa di daerah saya, ada juga yang menyebutnya yuyu atau kepiting sawah. Mainan kami; dari cara mendapatkan mereka (embes); sampai membuatkan rumah-rumahan untuk mereka. 

Setelah puas, kami kembalikan mereka ke tempat asal atau biarkan saja.

amaryk.id
Pict from wikipedia.org


Dolanan ini dimainkan pada musim penghujan. Mulai dari denah sekolah SD Desa Jegreg; yang berdempetan dengan sawah, arah selatan. Dari arah utara sekolah dibatasi jalan raya—penghubung kecamatan, dan pagar semen dengan tinggi se pinggul orang dewasa. Di sela antara jalan raya tersebut ada balong, saluran air atau saluran irigasi desa.

Poin pencariannya itu sawah dan balong Desa Jegreg. Namun ketika musim hujan kadang saya tak perlu repot mencari mereka, sebab mereka yang akan datang sendiri ke kelas.

Tahun 2004-2009, di tahun tersebut, jelasnya bangunan sekolah 'SD' Desa Jegreg tidak sebaik bangunan di tahun ini, genangan air masih sering muncul. Meskipun melubernya tidak sampai masuk ke kelas-kelas, mentok sampai halaman sekolah.

Lumrah jika tidak hanya kami penghuninya, salah satunya ya embes. Di waktu itu, nuansa 'pedesaan' cukup terasa, pun dengan kami--anak-anak desa Desa Jegreg--dengan segala atribut, lengkap, juga kolot.

Embes tersebut kami pancing dari sarangnya. Tali rafia, ranting pohon, dan cacing adalah perlengkapan yang wajib ada. Tidak usah repot-repot bawa dari rumah, alat-alatnya kami cari dengan metode dadakan sekitar Desa Jegreg.

Semua sudah tersedia, misal tidak ada rafia, plastik bekas jajan pun jadi. Jika tidak ada, maka apapun itu yang menyerupai tali supaya bisa diikatkan di ujung ranting. Ujung tali ditaruh seekor cacing—dimana cari cacingnya? Cukup cari di tanah yang lembab di sekitar sekolah Desa Jegreg, jongkok, gali tanahnya, dan muncullah si cacing. Beres.

Ketika semua persiapan sudah selesai, kami tinggal menuju lokasi dua titik tadi. Sejujurnya, tempat favorit itu adalah balong, karena ada banyak embes.

Cara untuk memancing mereka pun bisa dibilang mudah. 

Dari alat sederhana tadi, yang menyerupai pancing, kerjanya pun seperti pancing. Tinggal arahkan saja ujung tali yang terikat cacing tadi ke depan si embes. Ketika si cupitnya sudah mengarah ke umpan, tunggu sebentar sampai si cacing mau di makan, tarik pelan-pelan. 

Apabila ditarik terlalu kencang, si cacing akan terputus dan si embeng akan jatuh di air lagi.

Di sana lah seninya, permainan anak Desa Jegreg.

Jadi, ini memerlukan keterampilan khusus, kefokusan; ketelitian; perkiraan; dan juga akurasi perhitungan semua dipertaruhkan. Belum lagi jika karakter tubuh si cacingnya lentur. Memerlukan tenaga ekstra, supaya si cacing tidak putus, ketika menarik si embes.

Usai prosesi selesai, dan si binatang ini sudah terkumpul cukup banyak, barulah kami buat pagar tanah, rumah, buat mereka dengan mengumpulkan tanah secukupnya di sekitar SD Desa Jegreg. 

Bangun gundukan menyerupai pagar, bisa melingkar, kotak, atau bentuk yang lain, sampai kiranya si embes dimungkinkan tidak bisa memanjat. Taruh mereka di dalamnya dan lihat mereka muter-muter di situ sampai puas.

Sebenarnya tidak ada kata puas, hanya saja, waktu bermain tersebut hanya 30 menit—jam istirahat. Ngaso. Lalu ketika lonceng sekolah sudah berbunyi. Ya, berakhirlah pertunjukkan embes kami.

Tidak ada rasa bosan, meskipun hanya sekedar melihat mereka saja dan itu saya lakukan berkali-kali. 

Pernah pada suatu momen saya iri. Ini berhubungan dengan kesakralan pengambilan si binatang kecil tadi ala anak Desa Jegreg. Saya terkhusus harus mempersiapkan alat ini dan itu agar memperoleh mereka. ini seperti serangkaian upacara sebelum beribadah. Nahasnya, cara tersebut digunakan untuk anak penakut seperti saya ini.

Mereka yang lebih berani, ya, tinggal ambil embesnya dengan tangan kosong. Tanpa takut di cupit oleh capitnya. Horor anak-anak Desa Jegreg ini, saya rasa. 

Apa boleh buat, itu keadaan yang benar memang. Sampai saat ini pun saya masih ragu untuk memegang langsung mereka, menangkap. Hanya saja, kalau dipikir-pikir pakai metode tangan kosong atau pakai serupa pancing tadi, kalau disuruh milih, saya memilih alat serupa pancing tadi. 

Ada daya keterampilan yang dapat terasah.

Oh seperti itu! Keterampilan saya di waktu besar ini berasal dari ketakutan saya. Ternyata.

 

Pare, 20 Maret 2022

Muis Amaryk

 

Posting Komentar

© Amaryk - Ruang Candu. All rights reserved. Developed by Jago Desain