Candu Amaryk
Surat Pertama
Saya Muis Amaryk, manusia yang belum tahu dunia ini dengan sepenuhnya, bahkan dirinya sendiri belum pernah terkuak. Saya paling sadar dibesarkan oleh kondisi. Keadaan, andai saya ingin bertekad dengan diri sendiri, belum pernah terselesaikan—sebagian besar melahirkan kegagalan. Tipe orang yang tidak mau mengalah, dengan begitu, saya menuntut diri ini untuk banyak belajar; membaca buku sebanyak mungkin, mengamati sekitar se-detail mungkin, bertindak bertaruh dengan pikiran, dan bereksperimen akan hal baru. Tidak sepenuhnya apa yang saya lakukan berbuah hasil. Pasti ada sela yang terlupa atau tertinggal. Akhirnya, saya mangkir bahwa saya ini cerdas, tidak terlalu pintar—sedang. Pikiran tersebut melahirkan semboyan ‘telaten’ dalam diri saya.
Dari sini, saya akhirnya mempercayai bahwa manusia itu lemah, oleh sebab itu sampai saat ini saya menjadi manusia pesimistis (negatif) dan karena semboyan tersebut pula saya sering kelelahan. Sering frustrasi atas tindakan sendiri, belum lagi jika olah-nya orang lain—saya mudah tersulut, namun sudah surut sejak mahasiswa. Bagi saya, diri ini adalah buku, belum katam, begitu pula dengan semua yang bisa saya pikirkan—itu buku. Saya suka ‘mencuri’ pengetahuan yang sekiranya itu unik, misal; pada suatu momen saya melihat kejadian di depan mata saya dan kejadian tersebut membuka kesadaran pikiran, saya tidak segan-segan mengubah itu sebagai ilmu. Semua hal yang ada di dunia ini menarik bagi saya, tidak menarik pun tantangan tersendiri bagi saya. Paradoks.
Saya pribadi tipe pemikir, tidak semua ‘sekaligus’ saya pikirkan, yang diperlukan saja, apabila saya memikirkan semuanya itu kelak membuat tegang otak saya, kadang yang diperlukan saja sudah mampu membuat tegang. Saya juga sering terjebak dengan diri sendiri, ini adalah pengalaman yang cukup merepotkan—meskipun begitu saya bersyukur telah di berikan kedirian ini. Saya selalu hidup dengan banyak masalah dan masalah itu pula yang menghidupkan saya; dewasa. Dan, sepertinya, semakin bertambahnya usia masalah makin bertambah. Kecerdasan dipertaruhkan, maka saya mulai giat menggali lagi potensi saya, mulai dari: mempelajari skill-skill baru—bahasa asing dan desain, dan memperkuat skill lama—menulis itu candu saya, literasi.
Saya pernah hampir gila selama setahun di tahun 2020, disebabkan oleh rencana hidup yang tidak tercapai. Saya kira itu akhir semua bagi saya, tetapi tidak, saya bangkit; dulu saya tipe orang optimis, tapi dengan kejadian ‘kegilaan’ itu, saya mulai melangkah dengan hati-hati. Saya ‘pernah’ punya guru yang mengatakan ini, “Hidupmu itu penuh dengan kepalsuan.” Saya sadar beliau mengatakan hal tersebut karena saya sering menggunakan diksi ‘sebenarnya’ saat berbicara dengan orang lain juga muka umum.
Saya tidak pernah mengakui diri saya adalah orang cerdas dan pintar, seperti perkataan sebelumnya. Saya itu bodoh, perspektif dari saya untuk diri saya, ‘kekonyolan-diri’ agar tetap belajar dengan serius. Berbicara tentang motivasi belajar, saya mengibaratkan seperti iman dalam kepercayaan sebuah agama. Kadang naik kadang turun. Seringnya ketika iman belajar saya menurun saya berkelana ke gunung—mendaki. Gunung bagi saya itu misteri, di sana ada pengalaman yang belum pernah saya temui, di bawah. Saya suka menjalaninya. Tradisi mendaki dimungkinkan besar tetap saya rawat—sewajarnya orang beribadah.
Ada satu hal tentang ke-optimis-an yang tidak pernah goyah, yakni; bahwa satu kebaikan akan melahirkan kebaikan yang lain. Saya sudah lama meyakini ini kira-kira sejak di bangku biru putih (SMP)—2009-2012. Ada semacam ‘meta’ yang tidak bisa saya uraikan.
Lengkong, 13 Mei 2022
Muis Amaryk
Perjalanan
1996
Di tahun ini, saya hadir di dunia ‘fana’ (Desa Jegreg, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk) tertanggal menjelang fajar muncul, Hari Sabtu, Sembilan Belas Oktober, Tahun Seribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Enam, tempat ujung desa rumah bidan praktek desa. Saya anak kedua yang hadir dari dua bersaudara, selang-waktu lima tahun semenjak kakak perempuan saya muncul, orang tua asli pribumi Nganjuk—mereka hanya beda kecamatan saja. Saya juga tinggal di desa di mana saya dihadirkan kali pertama hingga cerita dan pengalaman tertatah sampai mengembang ‘saya’ saat ini.
1997-2001
Masa kecil pra sekolah formal, tiap hari saya habiskan untuk bermain bersama saudara sepupu dan bertengkar dengan Ibuk. Ingatan saya pada masa ini tidak sepenuhnya mengendap, yang terselamatkan hanya momen bermain dan momen dimarahi Ibuk. Andai ada cerita yang lain muncul di masa ini itu adalah atas bantuan orang lain yang bercerita—tentang saya kecil yang ber-ke-laku ‘rembes’.
2002
Taman Kanak-kanak (TK) adalah masa di mana saya mengenal ‘babakan’ guru dan murid dan berbagai ‘tetekbengek’ dunia pendidikan: kertas, buku, pensil, bangku, dll. Saya tetap bermain, kesadaran pendidikan belum ada, itu keinsafan lambat; banyak teman, bermain, uang saku, jajan—bahagia.
2003-2009
Sekolah Dasar (SD), teman saya bertambah, yang awalnya belum pernah jumpa akhirnya jumpa, jam pelajaran juga bertambah. Waktu bermain di kelas juga berkurang, kesedihan saya saat itu, tidak bisa bermain dengan puas. Di masa ini, saya masih belum punya niat untuk belajar, saya bersekolah karena teman-teman saya sekolah. Inisiatif absen dari kelas selalu terlintas di benak, seperti yang telah dilakoni teman-teman saya atau para kakak kelas. Informasi tentang mereka yang absen selalu terdengar di telinga, padahal saya rasa waktu SD itu anaknya banyak sekali. Hal tersebut membuat diri saya juga berinisiatif absen, itu kerap gagal, faktor utamanya adalah orang tua. Mentok bisa absen dengan alasan sakit, jika pura-pura pun nanti ketahuan langsung oleh Mamak-Bapak. Menyebalkan.
2009-2012
Asmara dan pramuka adalah tema utama tahun-tahun ini dan saya juga mulai mengenal organisasi. Aktivitas padat, mengikuti kegiatan ini-itu; dan, nongkrong dengan teman, ngopi. Pramuka tidak bisa dinafikan di masa ini, saya cukup giat mengikutinya, tentu, dengan tradisi yang melekat di pramuka daerah saya. Pikiran saya mulai meluas namun masih abai dengan niat belajar pelajaran, seandainya membaca buku pelajaran itu lantaran faktor intimidasi lingkungan rumah, sebab semasa ini saya seangkatan dengan adik sepupu perempuan saya—rumahnya tepat di timur rumah—jadi ketika Ibuk mendengar informasi ujian dan seketika itu pula saya di paksa untuk sinau, dengan membawa emosi. Dia adik sepupu ‘saya’ rajinnya minta ampun.
2012-2015
Saya mondok dengan keinginan sendiri, terpengaruhi oleh keluarga besar Ayah. Masa ‘tobat’ dan mengenal dunia agamaku cukup mendalam—saya kira tapi kurang yakin. Di masa ini kesadaran literasi saya bangkit, saya mulai mengenal buku-buku dari yang non-fiksi sampai fiksi; membaca menjadi hobi dan berorganisasi menjadi makanan sehari-hari, lalu pemahaman ‘kesadaran’ dunia pendidikan. Niat belajar juga mulai bangkit, saya mulai cukup serius belajar, tidak semua, hanya beberapa poin: agama, sejarah, literasi (membaca, diskusi, & menulis), teater, geografi, sosiologi, dan berorganisasi. Saya juga pernah menyukai pelajaran ekonomi, namun mandek saat sampai materi akuntansi—saya benci berhitung.
2015-2019
Tahun di mana saya berkuliah dan menyandang gelar mahasiswa merupakan masa yang rumit dan kompleks. Dengan alasan ini, saya tidak menuliskannya di sini, akan saya buat edisi khusus di tahun-tahun ini. Jangan kecewa.
2020
Fase nano-nano—jujur, usai menyandang gelar sarjana yang saya rasakan tidak ada; bahagia, gembira, senang, dan bangga mereka tidak muncul—hambar. Saya meyakini ‘sebenarnya’ belum siap hari esok—tipe manusia yang terjebak zona nyaman—dan, masih haus ilmu, yang berarti saya merasa ilmu saya masih sangat kurang sekali. Ketidakpercayaan diri diperparah oleh pandemi, rancangan (prospek) hidup gagal total, saya kalap. Namun meskipun kalap, saya masih berusaha untuk tidak menghentikan otak saya ini—berpikir. Fase di mana saya mempelajari hal baru dengan rasa hampa; belajar serasa tidak bernyawa. Anehnya, saya dapat bertahan cukup lama dalam kondisi ini padahal saya sudah menganggap diri ini seperti mayat hidup; frustrasi tingkat akut, kerap tertawa sendiri di saat malam (karena kondisi), mencaci diri karena tidak segera bangkit, mental lemah, dan selalu berpikir negatif—sendiri.
2021
Saya masih haus pengetahuan, membawa saya ke kota sebelah, Pare Kediri. Mengusai bahasa asing, Inggris, adalah tujuannya, tanpa membawa bekal apapun kecuali badan ditambah tiga celana dalam, tiga sarung, tiga kaos, satu kemeja, satu celana, dua tas, dan peralatan tulis. Mental adalah pegangan saya, mengawali dari nol, sebab saya tahu bahwa ilmu ini salah satu yang paling saya benci. Uang hanya sekadar untuk bertahan hidup. Pasrah, dengan apa yang akan saya hadapi di pemberhentian ketiga ini. Saya ketat dengan diri; puasa HP, lebih giat membaca, dan selalu mengulang pelajaran yang telah diberikan. Di bulan pertama, Minggu, 9 Januari sampai 10 Februari, saya cukup bangga dengan capaian diri: tidur malam 3-4 jam, di pagi hari sudah beraktivitas kembali, tidak ada tidur siang—bulan kedua 30 menit adalah istirahat paling lama, dan tiada jam tanpa membawa buku. Hasrat belajar saya terpenuhi, nano-nano, puas atas apa yang saya lakukan. Saya lepaskan semua energi dalam tubuh untuk menaklukkan ilmu ini, syukur di sini saya bertahan setahun lebih.
2022
???
Catatan
...
Published I 2022