| Arsip pribadi |
Pernah 'Mondok' di 'Pesantren'
Kehidupan di pondok kandang membuat seseorang merasa takut untuk menjalaninya. Dengan bayang-bayang yang begitu banyak menghantui pikiran. Sebagian orang mengira kehidupan di pondok itu menakutkan. Teringat pada agama, sebagai acuan keseharian dalam kehidupan. Padahal semua itu masih anggapan yang belum terbukti.
Sebagian orang tua, yang tidak sanggup untuk mendidik anak kandungnya sendiri maka mereka kirim ke pondok. Dengan harapan untuk meluruskan segala kehidupan anak agar menjadi lebih baik. Kejadian seperti ini juga menjadi acuan. Karena sebagaian orang beranggapan bahwa kehidupoan di pondok itu ketat dan banyak anak-anak yang mondok dilatarbelakangi dengan kenakalan.
Sebenarnya tidak semua orang beranggapan bahwa kehidupan di pondok itu menakutkan. Para guru yang belatarbelakang ilmu agama yang kental, mereka semuanya beranggapan pendidikan pondok itu sangat penting bagi anak sejak dini. Dengan alasan bahwa pondok itu sebagai bekal kehidupan yang baik.
Banyak hal yang melatarbelakangi para orang tua untuk memondokkan anak-anaknya. Pondok bukanlah sekolah biasa, seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Biasanya para pelajar di sekolah dibaatasi oleh waktu, yang berangkat pagi dan pulang pada siang hari. Beda dengan di pondok, tempat tingggal akhirnya juga sebagai ajang untuk mencari ilmu. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.
Sering juga disebut, bahwa pondok sebagai bengkel hati. Dalam kehidupan di pondok penuh sekali dengan nuansa agama. Maka tidaklah jarang anak-anak yang lulusan pondok mempunyai jiwa yang baik dan dermawan. Karena dalam setiap kesehaariannya sudah terdidik untuk menjadi manusia yang berbudi luhur.
Anak pondok sering juga di sebut sebagai santri. Istilah santri dalam negara Indonesia sudah tidak asing lagi. Sebagian juga merasa senang kalau sudah menyandang predikat santri, karena santri dikalanga mempunyai tempat yang baik.
Tetapi juga perlu diteliti dengan baik lagi, bahwa tidak semua buah di pohon itu akan matang semua. Begitu pula dalam anak pondokan, mereka yang benar-benar dengan tulus untuk mondok dan bisa meresapi keilmuan yang telah diberi. Maka, akan menjadi seseorang berbudi luhur. Begitu pula dengan sebaliknya bila seseorang mondok niatnya sudah setengah-tengah, Maka tidaklah menjamin menjadi seseorang yang berbudi luhur.
Kehidupan di pondok dari awal sampai akhir memang penuh dengan teka-teki. Pengalaman-pengalaman kehidupan yang begitu banyak menjadi bekal dalam kehidupan meraka. Masing-masing yang pernah hidup di pondok. Setiap cerita dari seseorang yang mengalami berbagai macam pengalaman di pondok pasti mempunyai cerita tersendiri dan mengesankan.
Satu hal yang perlu dicatat kalau kita pernah mondok. Mondok itu, beda dengan penuntut ilmu lainnya, dari bangun tidur sampai tidur lagi mereka para anak pondok sudah digembleng akan peraturan kehidupan yang mempunyai rambu-rambu. Bahwa mereka dibelajari untuk bisa membuat peraturan dalam diri mereka masing-masing.
Kebebasan dalam hidup pasti akan kita alami kelak, maka kehidupan di pondok yang pernah kalian alami lah yang akan menuntun kalian ke kehidupan yang sebenarnya.
Di post:
11.05.2016