Si penjahit hitam berkata, “setiap kain yang ku pegang sudah berdarah dengan satu ungkapan, yaitu keserasian.” Tiba-tiba di atas sana berkata, “bukan berkat dikau yang sudah menoreh sentuh, tapi jalan memang sudah begitu adanya.”
(Pendahuluan,
04.40 WIB)
Saya
seperti sedia kala, lanjutkan saja percakapan kalian. Selagi saya masih
menyimpan satu pertanyaan kecil buat kalian berdua. “adakah yang lebih rumit dari perkataan kalian tersebut?”
Saya
beranggapan, apapun itu, satu hal: antara si penjahit hitam dan suara dari atas
tadi adalah hamba dan tuan atau makhluk dan pencipta atau lebih sempit lagi,
manusia dan Tuhan. Kiranya!
Hanya
dengan bertengger dengan huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat
menjadi paragraf dan seterusnya berakhir menjadi tulisan. Sebagai bahan asupan
gizi—mungkin. Begitupun dengan saya, yang selalu mengagungkan dunia ini. Kisah.
Akan
tetapi, jangan beri titik, saya ‘menyaran’ dengan mencoba sedikit anggun. Demi
kebodohan kita, mengira! Sebuah perjalanan adalah sebelah sisi. Di bilik sana,
kita bisa seyakin dogma dan kita percayai. Lalu, di sisi lain, kita singkirkan
perjalanan lain—tidak penting.
Sudah
berapa kali kita ‘meng-acuh’ bahkan ‘meremeh’!
Kisah
adalah satu bilik dengan aksara dan satu bilik tanpa aksara. Sebut saja,
banding terbalik, tanpa berpapasan dan tanpa menoleh. Namun, sedikit banyak termasuk
saya, ada kesurupan etis atas kepercayaan universal, yang itu kita yakini
bersama—kisah dengan aksara.
Kurang
lebih tiga tahun yang lalu, saya masih mengingat. Dalam sebuah forum terdapat
manusia-manusia dengan diri merdeka—saya sadar ini sedikit memaksa. Bahwa: satu
kejadian yang terjadi dalam hidup kita, dengan tujuan yang sudah kita pikirkan.
Namun, ternyata tidak terjadi, tapi tercipta lah tujuan lain. Maka inilah
perjalanan sebenarnya.
Ingatan
saya, yang masih tertanggal dalam pendiskusian buku Tuhan Maha Asyik karya
Sujiwo Tejo. Saya pun tidak terlalu paham, “bagaimana
itu bisa di kata sebagai perjalanan ‘sebenarnya’.” Betapa menyakitkan
kejadian ini, jika ‘ada’ keputusasaan di setiap kejadian tersebut? Apakah tiap
seseorang mampu melewatinya?
Dan, dari
sini lah saya tercengang dengan ‘kisah’ manusia. Mereka terlalu istimewa untuk
diremehkan—mereka istimewa. Tanpa terkecuali. Dengan sadar atau tidak sadar.
Lembar perjalanan memiliki jiwa kasihnya masing-masing.
Ada
berlembar-lembar sampai bertumpuk-tumpuk pola perjalanan manusia, yang telah
saya baca. Jelas buku fiksi yang saya maksud. Namun, jangan anggap fiksi bagi
saya adalah ketololan—kenapa harus dipercayai. Saya dengan akal sadar,
menghayati kehidupan tanpa membaca buku fiksi adalah mandul.
Belum lagi
‘perjalanan’ pribadi saya, selama 24 tahun hampir penuh 3 bulan ini. Melihat
berbagai bilik kisah ‘tanpa’ aksara; tersenyum, menangis, marah, emosi, penat,
bahagia, senang, bangga, muak, acuh, sakit, derita, tangis, sebagian di antara
sikap atau ekspresi saya atau orang lain, yang pernah saya jumpai.
Subjektif bukan?
Namanya juga kisah.
***
Teman saya
pernah bilang, “wes to tinggal rokok an
ambek ngopi ae, nko lak tekan nggon.”
Oh.
