Kisah

Si penjahit hitam berkata, “setiap kain yang ku pegang sudah berdarah dengan satu ungkapan, yaitu keserasian

Si penjahit hitam berkata, “setiap kain yang ku pegang sudah berdarah dengan satu ungkapan, yaitu keserasian.” Tiba-tiba di atas sana berkata, “bukan berkat dikau yang sudah menoreh sentuh, tapi jalan memang sudah begitu adanya.”

amaryk.id
Pict from pixabay


(Pendahuluan, 04.40 WIB)

Saya seperti sedia kala, lanjutkan saja percakapan kalian. Selagi saya masih menyimpan satu pertanyaan kecil buat kalian berdua. “adakah yang lebih rumit dari perkataan kalian tersebut?”

Saya beranggapan, apapun itu, satu hal: antara si penjahit hitam dan suara dari atas tadi adalah hamba dan tuan atau makhluk dan pencipta atau lebih sempit lagi, manusia dan Tuhan. Kiranya!

Hanya dengan bertengger dengan huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf dan seterusnya berakhir menjadi tulisan. Sebagai bahan asupan gizi—mungkin. Begitupun dengan saya, yang selalu mengagungkan dunia ini. Kisah.

Akan tetapi, jangan beri titik, saya ‘menyaran’ dengan mencoba sedikit anggun. Demi kebodohan kita, mengira! Sebuah perjalanan adalah sebelah sisi. Di bilik sana, kita bisa seyakin dogma dan kita percayai. Lalu, di sisi lain, kita singkirkan perjalanan lain—tidak penting.

Sudah berapa kali kita ‘meng-acuh’ bahkan ‘meremeh’! 

Kisah adalah satu bilik dengan aksara dan satu bilik tanpa aksara. Sebut saja, banding terbalik, tanpa berpapasan dan tanpa menoleh. Namun, sedikit banyak termasuk saya, ada kesurupan etis atas kepercayaan universal, yang itu kita yakini bersama—kisah dengan aksara.

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, saya masih mengingat. Dalam sebuah forum terdapat manusia-manusia dengan diri merdeka—saya sadar ini sedikit memaksa. Bahwa: satu kejadian yang terjadi dalam hidup kita, dengan tujuan yang sudah kita pikirkan. Namun, ternyata tidak terjadi, tapi tercipta lah tujuan lain. Maka inilah perjalanan sebenarnya.

Ingatan saya, yang masih tertanggal dalam pendiskusian buku Tuhan Maha Asyik karya Sujiwo Tejo. Saya pun tidak terlalu paham, “bagaimana itu bisa di kata sebagai perjalanan ‘sebenarnya’.” Betapa menyakitkan kejadian ini, jika ‘ada’ keputusasaan di setiap kejadian tersebut? Apakah tiap seseorang mampu melewatinya?

Dan, dari sini lah saya tercengang dengan ‘kisah’ manusia. Mereka terlalu istimewa untuk diremehkan—mereka istimewa. Tanpa terkecuali. Dengan sadar atau tidak sadar. Lembar perjalanan memiliki jiwa kasihnya masing-masing.    

Ada berlembar-lembar sampai bertumpuk-tumpuk pola perjalanan manusia, yang telah saya baca. Jelas buku fiksi yang saya maksud. Namun, jangan anggap fiksi bagi saya adalah ketololan—kenapa harus dipercayai. Saya dengan akal sadar, menghayati kehidupan tanpa membaca buku fiksi adalah mandul.

Belum lagi ‘perjalanan’ pribadi saya, selama 24 tahun hampir penuh 3 bulan ini. Melihat berbagai bilik kisah ‘tanpa’ aksara; tersenyum, menangis, marah, emosi, penat, bahagia, senang, bangga, muak, acuh, sakit, derita, tangis, sebagian di antara sikap atau ekspresi saya atau orang lain, yang pernah saya jumpai.

Subjektif bukan? Namanya juga kisah.

***

Teman saya pernah bilang, “wes to tinggal rokok an ambek ngopi ae, nko lak tekan nggon.”

Oh.

Posting Komentar

© Amaryk - Ruang Candu. All rights reserved. Developed by Jago Desain