Terjal kesunyian | Candu Bait

Terjal kesunyian


Gerhana merebahkan sinar nan kelabu pada Sudra yang tercengkram oleh batas ruangnya. Sudra tersangkar di jiwa tanpa ketidaktahuan, ia merangkak dan merongrong dimensi yang tak pernah ia lakukan.

Begitu apa Sudra menyayat diri tanpa Sudra tak sadari : Hancur, terhempas, tersungkur, tergopoh, terpelentang. Entah Sudra kali ini mengalami keguncangan jiwanya, sampai pada renjana terumit.

Tersungkurlah sudah dengan bagaimana? sudah Sudra perjuangkan. Bermula tak berakibat tak ia dapatkan. Seperti habis manis sepah terbuang dan lenyap. Usai sudah tajuk alur yang ia jalani begitu manisnya dan mengapa Sudra sampai tak kenal lelah lalunya. toh keberakibatannya tak ia dapat

kadang sebab yang dihempaskan, belum tentu akan terpantul imbang dengan hempas yang nanti kembali. meskipun tak ada satupun mustika yang ia perjuang terbalas. Sudra memang pemuda yang terkena apes

sebab apa pula ia lakukan, kalau sebelum tindak itu tak ia perkirakan. lagi apes toh ya apes, tak terdefinisikan.

kehancuran Sudra seperti di amini oleh pujangga alam yang senada mengiringi. tetes air mata Sudra belum juga reda, sudah pula langit menambahi tangisan itu. langit ikut bersedih: murung Sudra mendung langit, Tangis Sudra rintih langit, teriak Sudra guntur langit_yang menyambar sampai kehulu hati.

nampaknya Sudra bukan satu-satunya  kawan yang pertama akan kejadian serupa. lalu lalang dagang terjalnya kesunyian membutakan semua di depan mata...

Sudra kau mengapa  ? ...

Dari awal masa ada, itu sering terjadi 'bahkan'


Amaryk
23 Mei 2018
Tulungagung

Pict from pixabay



Posting Komentar

© Amaryk - Ruang Candu. All rights reserved. Developed by Jago Desain