Sajak Pecundang
Akulah sang, yang mengirim malapeta cundang. Sedikit tak rupa dari pandang dan gerang selalu menghampiri pulang... meskipun duka sering bergemuruh datang. Akulah pecundang, sang buruk datang dengan tangan terbungkam menghampiri malam.
.,
Tak kuasa pula, hanya sebongkah kerangka tulang berbusana daging kepalang. Yang hanyut dalam lentera sajak pecundang... Begitulah, aku pencundang: perumpamaan wayang dengan tangan terpincang.
.,
Aku lukiskan kisah aroma pahit. Untuk diriku. Yang Menyisir lekat-lekat kenaifan penjilat. Seperti manusia berderak kehilangan duit. Hingga aku kembali sebagai contoh manusia berbudak kolot. Melumat zirah pikiran melotot, pada perabot berbobot muka kenalpot.
.,
Beri aku nista yang begitu naif. Akanku rubah, seperti sihir bermata pasif. Tapi akan jatuh kemuka pragmatif. Dengan kandung paradigma sadis. Bagai ladang bermakna puitis.
.,
Jatuhkan sabuk makam pecundang, yang beruntuk kedirian. Beda aku sang pecundang, lain dari kedirian. Sembari sempoyongan berimbang lalulalang. Dengan kenal derai pelumat manusia malang.
.,
Tegas, aku sajak pecundang: pengimbang kenaifan diri, bertarung penghianat diri, juga membelalak kepembohong diri. Pecundang diri, penuh kepedihan murni. Demi manusia peduli. Melawan kepercayaan diri. Juga jatuh dari permukaan derma, pun mulut getir pegawai...
12 maret 2019
Tulungagung
![]() |
| Pict from pixabay |
