Lentera
Hidup bukanlah apa dengan apa yang dipilih. Tetapi, hidup bermuara dalam masa keapaan yang terpilih. Boleh saja angin mengisi esok mu. Boleh saja sejuk mengisi lalu mu. Cuman, tepat pada mengapa kita ada di keberadaan ini.
Perjalan ruang hampa tak semudah meniupkan nafas pada sang mantan. Lebih dari hal tersebut. Ia melebur bagaikan detik yang tak dikuasai jarum. Hingga lahap pada masa-masa keperdulian.
Lentara, tak hanya menghias. Pada langkahnya terdapat rapalan jagad yang menyatu pada jiwa. Menembus ketidaksadaran dengan harmoni sayang yang sempurna, bukan kita yang tidak sempurna...
Lentera, menanyakan sebuah ungkap cahaya di dalam purna kesanggupan hati. Iya, mempercayai sebuah kebertahanan yang lupus pada ketakutannya sendiri.
Bila ada ketakutan yang tidak diketahui itu dungu.
Lentera, bercumbu dengan masa dan ruang sebagai pelengkap kemesraan. Bila tak sanggup, ia putuskan pada angkasa yang membentang luas. Lewat udara, ia lampiaskan kecemburuan.
Lentera, sebuah kebingungan yang mengaung seperti raja hutan yang murka. Melebihi sambaran petir di gunung himalaya: Tak terdirikan pada definisi kenaifan. Sebab, laut masih tak kunjung surut.
Lentera, menyapa pada setiap kenangan yang dilupakan. Ia sungguh bijak, yang kadang penyebut lentera itu sendiri, tak sebijak 'kenangan' yang dihadirkan. Ia terbang menggapai udara kasih pada cinta untuk sayang ...
Sebuah langkah keheningan yang dirasukan pada racun kasih di dalam candu,
lentera...
9 Juni 2018
Tulungagung
![]() |
| Pict from pixabay |
