Sepi

Sangka tak bertuah namun berduri bahagia. Itulah yang dia rasakan. Menepi dan minggir dari segala arah. Hanya saja, dia tak berlinang keberuntungan,

Sangka tak bertuah namun berduri bahagia. Itulah yang dia rasakan.  Menepi dan minggir dari segala arah. Hanya saja, dia tak berlinang keberuntungan, juga tak berbuah manis seperti yang dia harapkan. Lalu, apalagi? Katanya dalam hati. Pikirnya, dia sudah mewujud dalam satu kata, bertahan... bertahan... bertahan.

***

Aku bertanya pada diri, akankah ruah senang dapat menghadir tanpa diminta? Nahasnya, itu gejolak diri tanpa bisa diampuni. Tragis. Aku hanya mendiam tak tentu arah. Bahkan membisu tak bisa berkata. Ini muka ada, mulut pun masih semula di tempat tak berpindah.

Lagi-lagi hening, seperti sedia kala kemarin. Aku bersujud hidup tanpa sadar diriku tersungkur oleh kehadirannya. Padahal ada raut meta, yang tak bisa diriku terjemahkan. Inilah diriku dan itulah dirinya. Saling bertolak silang, hingga kami pun tertahan nafas. Dan, menduga ada yang lain.

Sampai pada titik tertentu. Diriku memutuskan sangkar hidup tak terkendali. Hidup... lagi-lagi soal ini. Imaji. Terus meretas akar rimba di kepalaku dan di saat bersamaan diriku hadir. Seperti pertapa yang hilang, lalu tiba-tiba hadir ke permukaan mengusiknya. Aku pun iba, bukan padanya tapi padaku sendiri. Namun, diriku sampai lalu­—tanpa tahu apa yang dirinya pikirkan.

Semakin melaju merobek udara, ketika ada fisik yang mampu mewakili. Sayangnya tidak ada. Hanya mereka-reka, aku tidak ada dan hilang lagi. Sungguh tanpa ku ketahui, apa yang sebenarnya diriku minta. Apakah dirinya? Bukan. Jelas bukan. Dia hanyalah papasan di kiri jalan.

Aku pun memutuskan untuk berhenti. Menyerah kataku pasrah. Kira-kira begitu alam ku bekerja. Ibarat satu bunga putus, lalu mekar lagi dan menyambung kembali. Penasaran ku, kenapa ini seperti pola gaib. Garis benang merah yang menyala, pun membakar alam sekitar ku.

Rinduku pada diriku, yang dulu. Akhirnya seperti kisah pupus. Roda yang kian pesat terlalu rumit tuk ku pahami. Sudah. Aku menduga. Tidak ada lagi. Perlu pantas bukan soal. Tapi, lagi-lagi kenapa? Aku mencoba hal percuma. Andai dan andai saja, aku dapat me-meta pikiranku sendiri. Seperti dalam folder komputer ku, yang suka-suka ku bisa ubah. Sampai se-detail mungkin, bahkan abstrak pun dapat ku pahami.

Aku memejam, mengeja tiap kalimat, yang terlintas dalam pikiranku. Aku sunyi, meramu sedikit makna, tanpa menodai kata. Aku pun senyap, menyusun arah hingga dapat berdamai. Hingga pada waktu tertentu, ada dia. Menakutkan. Tidak berkata, bahkan di depan mata pun tidak ada. Sedemikian rupanya, dia begitu mudah muncul tanpa aba-aba dan peringatan.

***

Aku baru saja berteriak keras dan kencang. Woii... pengetahuan, apa pula fungsi mu dalam diri ku. Kalau saja tak terbesit penting dan berguna untuk mengatasi satu hal ini! Tajam tanpa ampun aku hujat dia. Sambil mata ku masih nanar—meskipun hanya di benak. Aku bertanya tegas, siapakah kau gerangan? Dia hanya diam dengan wajah yang tak bisa ku mengerti!

Apa maumu? Kenapa kau hanya diam? Bagaimana kau bisa di sini? Mengapa kau selalu ada dimana-mana? Siapa kamu? Untuk apa menyapa tanpa ekspresi? Tanpa kata? Tanpa alasan? Tanpa penjelasan? Hai kau? Yang masih ada di sini? Aku belum puas.

Dia masih saja seperti itu dan entah lah. Aku biarkan saja. Aku lelah. Aku pusing. Aku muak. Kenapa dia tidak enyah saja dari sini. Dalam sepi. Aku sendiri. Tapi, ada yang lain. Diakah teman? Diakah sahabat? Diakah itu? Apa yang itu? Apa yang lain dari itu? Sungguh aku tak mengerti.

Aku tersenyum dan ku buka mata ku pelan-pelan. Terimakasih, awal ucap ku. Aku masih dengan keadaan ku semula. Tanpa kurang tanpa lebih. Mungkin dengan pelengkap baru. Aku rasa. Semakin ku rasa, semakin pula aku merasa—bahwa aku punya diri lain. Pantulan cermin anggap ku. Dan, dia masih di sepi yang sama. Meskipun, aku juga tidak tahu apa yang dia inginkan. Padahal, keanehan ini, bukan sesuatu yang biasa. Oh ya... aku masih di sini—ternyata tanpa menoleh.

***

amaryk
Pict from Pixabay


Biarpun begitu, dia tetap saja menunggu. Dengan diamnya, yang dialami sampai saat ini. Biar ada kata, ada kalimat, sampai paragraf dan tulisan. Dia sebenarnya diam dan hanya sekali berkata. Itu pun dengan diam. Dengan begitu, dia jalani dengan rasa, yang dikiranya adalah sesuatu itu dapat menyapanya dengan benar. Harapan dalam sepi, seperti kisah bisu tapi penuh makna.

 

Ruang Akal, 04.01.2021

Muis Amaryk

#amaryk

 

 

Posting Komentar

© Amaryk - Ruang Candu. All rights reserved. Developed by Jago Desain