Kau faham bila dalam keadaan yang ada itu bisa runtuh. Meskipun dengan argumen logis yang begitu kuat sekali", tik tok tik tok.
![]() |
| Gambar from Pixabay |
Teman Sejoli
Mentari menyepi diufuk barat, jalan terjal kini sudah melambai
lama. Menunggu jiwa-jiwa terpaksa, menuju hakikat salam sejahtera.
Titik jenuh yang tak pasti menghilang, ditelan jagat. Kadang burung dara ikut memecahkan seni dalam perunggu alam.
Kehampaan yang kini
mencapai klimaksnya. Oh langit berusaha berbicara dengan pesonanya.
Bintang pun juga, dengan gemerlapnya. pepohonan yang
berayun-ayun turut mengiyakan.
Tak pantas diyakini bila kehampaan ini menuju pada kesesatan.
"Hanya saja kehidupan ini tak semudah apa yang kita angan kan. Sungguh terlena dalam bunga-bunga kehidupan. Yang tersuguhkan pada keadaan yang sudah ada. Ada beberapa manusia yang mengiyakan. Ah keadaan yang seperti ini"
Tetapi, tidak semua manusia terbodohkan, oleh
keadaan yang ada: sebab, penyebab, akibat, dan berakibat. Menjadi membingungkan kalau dipermasalahkan. Sesungguhnya kehidupan punya literatur kehampaan tersendiri. Tak ayal bila akan
terusik.
Sebut saja terstruktur atas balasan, dari diri yang terbodohi begitu manis. Sehingga tak ada yang
tahu, jika itu hanya sebuah produk buatan manusia. Zaman-zaman sudah terbentuk dari pikiran manusia. Sejak duku.
Apakah boleh buat bila sudah tersuguhkan seperti ini. Yang baik hanyalah mereka yang mampu berfikir.
Apakah boleh buat bila sudah tersuguhkan seperti ini. Yang baik hanyalah mereka yang mampu berfikir.
Berfikir dalam segala yang hadir pada hidupnya. Tidak
semudah mengiyakan keadaan yang sudah ada. Meragukan segala yang hadir.
Menanyakan apa yang tak pasti. Merenungkan hal yang akan terjadi.
Maupun, ketidakpastian yang selalu menghantui.
"Kau punya satu alasan, setidaknya keadaan lebih baik dari sebelumnya"
"Sudahlah, aku tak apa. Terbaring seperti ini bukanlah ujung dari segalanya"
"Oke, memang kau capai pemikiran tersebut, yang menyulut semangat mu sendiri"
"Terimakasih"
▪▪▪
▪▪▪
Mereka berdua masih terus membicarakan apa yang telah dilakukan Arda.
Arda yakin bahwa alam semesta ini mempunyai makna tersendiri, tidak hanya
sekedar tercipta belaka. Itulah yang membuat Arda memikirkan segalanya.
Pemikiran itu pula yang sungguh menguras tenaganya dan Jaka adalah sahabat
karib Arda. Segala apa yang dilakukan Arda, Jaka pun mengerti. begitu
pula dengan pertanyaan-pertanyaan Arda tentang segala yang ada. Jaka
hanya diam saja sebelum terjadi. Tetapi setelah melihat sahabatnya terbaring
seperti kain kusut akhirnya Jaka angkat bicara.
Memang menurut
Jaka sahabatnya yang satu ini, beda dengan yang lain. Dari sisi lain, Jaka
kagum dengan apa yang dipikirkan Arda. Disamping sahabatnya yang
lainnya, hanya memikirkan tentang nilai di sekolah, kerja, pasangan, dan
lain-lain.
Tapi Arda berbeda. Dia disibukkan dengan pemikirannya sendiri. Asyik. Jaka sendiri bingung dengan apa yang Arda pikirkan. Kadang. Bahkan apa yang dipikirkan itu bisa dibilang tidak ada gunanya. Dibanding dengan teman-temannya yang mengejar nilai, kerja, uang, pasangan dan yang lain-lain itu.
Tapi Arda berbeda. Dia disibukkan dengan pemikirannya sendiri. Asyik. Jaka sendiri bingung dengan apa yang Arda pikirkan. Kadang. Bahkan apa yang dipikirkan itu bisa dibilang tidak ada gunanya. Dibanding dengan teman-temannya yang mengejar nilai, kerja, uang, pasangan dan yang lain-lain itu.
Arda hanya akan dapat sebuah jawaban, dari yang dipikirkan dan itu tidak mudah...
Jaka termenung melihat sabahabatnya seperti itu...
Jaka termenung melihat sabahabatnya seperti itu...
Lentera sore sudah menunjukkan tanda-tandanya. Arda dan Jaka berjalan
setapak menuju ke rumah. Saat itu jalanan ramai bagaikan orang ribut di
pasar saat pagi.
Bintang langit sore, sudah berterbangan di berbagai penjuru.Tampak jalanan yang begitu mempesona, karena pepohonan seperti mengikuti irama langkah kaki mereka. Melambai.
Bintang langit sore, sudah berterbangan di berbagai penjuru.Tampak jalanan yang begitu mempesona, karena pepohonan seperti mengikuti irama langkah kaki mereka. Melambai.
Terlihat pak RT yang menaiki sepeda dan menyapa Arda dan Jaka. Sejauh
mata memandang, lapangan itu sudah di penuhi sejoli-sejoli desa
yang tidak pakai baju. Mereka sudah bermandikan keringat.
Pemain yang ceria dijalanan dan hari ini adalah sabtu para anak-anak sudah berkeliaran. Perayaan kecil menjelang hari minggu. Dasar anak-anak.
Pemain yang ceria dijalanan dan hari ini adalah sabtu para anak-anak sudah berkeliaran. Perayaan kecil menjelang hari minggu. Dasar anak-anak.
"Kau faham bila dalam keadaan yang
ada itu bisa runtuh. Meskipun dengan argumen logis yang begitu kuat
sekali " Arda memulai .
"Iya terus" Jaka tertarik. Dua anak itu masih tetap berjalan.
"Iya terus" Jaka tertarik. Dua anak itu masih tetap berjalan.
"Tetapi, sungguh di luar dugaanku. Karena aku memakai dalil logikanya
pun belum sampai. Aku pikir karena satu alasan ini" lanjut Arda.
"Tunggu " Jaka penasaran.
Arda menanggapi dengan berhenti dan duduk di bawah pohon rindang. Sebelum mereka berdua melanjutkan
obrolanya. Beberapa anak kecil lewat di depan mereka. Sambil tertawa
lepas. Entah apa yang ditertawakan. Hanya mereka yang tau.
"Maksudnya ada sesuatu yang bisa meruntuhkan pemikiran, yang masuk
akal", pancing Jaka.
" itu sebuah kata yang tepat" Arda mengimbuhi.
" itu sebuah kata yang tepat" Arda mengimbuhi.
"Ok..ok lanjutkan Ar"
Arda diam seketika. Jaka curiga apakah sahabatnya ini sedang becanda. Jaka sudah mulai serius. Tapi, Arda belum melanjutkan apa
yang dimaksudkan. Muka Arda terlihat pucat.
Mereka masih duduk
menghadap ke utara yang terbentang jalan setapak panjang. Tidak terlalu lama
lewat satu, dua, atau tiga orang yang melintas didepannya. Arda masih
diam saja.
Jaka khawatir kalau Arda lagi kerasukan penunggu pohon
besar, Yang ada di belakang mereka. Bila dipanggil, hanya matanya
saja yang melirik, tidak ada respon.
Setelah Jaka melihat kiri
dan kanan, akhirnya Jaka mengerti alasannya. Ternyata Arda lagi salah
tingkah ketika melihat Mbak Yu Fatimah yang sedang berjalan pulang ke
rumah. Mbk Yu Fatimah pun, akan melewati mereka berdua.
"Asem kau, ternyara sudah menyadari keberadaan Mbk Yu Fatimah kalau akan lewat di depan sini"
Sungguh mempesona keindahan alam ini, terungkap bila melihat Mbk Yu
Fatimah. Bila dipandang semua mata akan terdiam, tersihir
karena untuk berkedip pun enggan. Apalagi kalau ditambah dengan
senyumnya, hati seperti bunga bermekaran. Belum ada yang mengikat Arda
di dunia ini. Selain pesona jagat yakni Mbak Yu Fatimah. Jaka melihat
Mbk Yu Fatimah semakin dekat. Seakan-akan pepohonan tunduk menyertainya,
seperti pelayan bersimpuh kepada ratunya. Angin pun menghantarkan.
Meskipun dari kejauhan saja. Arda sudah tersihir
oleh kedatangannya. Apalagi kalau melihatnya langsung. Kadang kala
mendengarkan nama Mbk Yu Fatimah disebutkan saja, Arda seperti dapat
suplemen dadakan.
"ia medekat" guman Arda yang terdengar oleh Jaka.
"Mari Mas...", sapa Mbkyu Fatimah santun. ketika melewati Arda dan Jaka.
Cuman Jaka yang menjawab "iya Mbk, mampir sini Mbk"
Sambil terus berjalan Mbkyu Fatimah menjawab, "kapan-kapan saja mas, ini
lagi ada urusan" mendengar suara lembutnya Arda diam tanpa gerak.
Jaka masih memperhatikan Mbkyu Fatimah.
"Brugggggg..." Jaka menoleh kesamping.
"oi Ar, kau tak apa?" Sambil menolongnya bangun. Arda terjungkir jatuh kebelakang.
"Brugggggg..." Jaka menoleh kesamping.
"oi Ar, kau tak apa?" Sambil menolongnya bangun. Arda terjungkir jatuh kebelakang.
"Hehe... gitu ae klepek-klepek" sindir Jaka.
Sesudah Arda mendapatkan dirinya lagi. Jaka langsung menyambung obrolan
tadi.
"Jadi, apa ini Ar jawabannya. Argumen logis yang diruntuhkan itu?"
"Jadi, apa ini Ar jawabannya. Argumen logis yang diruntuhkan itu?"
Arda masih saja memperhatikan Mbk Yu Fatimah yang berjalan
sudah jauh itu, tapi masih terlihat. Sambil sedikit tersenyum "jawabanya
adalah pujaan hati"...
Haha....
15/09/17 Tulungagung
