![]() |
| Sumber: Doc Pribadi |
Terbitnya Dua Matahari
Judul : Gemuruh Paregreg (Terbelahnya Singgasana Kerajaan Majapahit)
Penulis : Wahyu H. R
Perensensi : Amaryk
Penebit : DIVA Press (Anggota IKAPI)
Tahun Terbit : 2013
Tebal : 510 Halaman
Review
Paskah Mahapatih Gajah Mada moksa, Kerajaan Majapahit mulai kehilangan pengaruh dan wibawanya. kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi bawahannya pun mulai menyatakan ingin memisahkan diri.
Selain itu, Ketidaktegasan Prabu Hayam Wuruk Dalam memerintah, membuat seolah-olah ada dua matahari dalam pemerintahan di Kerajaan Majapahit, yakni Prabu Hayam Wuruk Sri Drajasanagara sendiri di Kedaton Kulon dengan ibukota Wilwatikta daerah Trowulan. Lalu ada, Bhatara Parameswara Sri Wijaya Rajasa, Paman sekaligus mertua dari sang raja, yang tinggal di Kedaton Wetan dengan ibu kota Pamotan. Majapahit pun terbelah menjadi dua kekuatan, Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan
Hubungan antara Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan semakin merenggang setelah meninggalnya Bhatara Parameswara dan mangkatnya sang prabu Hayam Wuruk. Menyisakan konflik perebutan kekuasaan, tinggal menunggu situasi menjadi panas saja dan akhirnya, bom waktu itu meledak dan terjadilah sebuah perang hebat yakni Perang Paregreg.
Usai Gajah Mada
Sepeninggal Mahapatih Mangkubumi Gajah Mada, walaupun Majapahit tidak runtuh. Namun, perlahan tapi pasti, dikit demi sedikit kejayaannya mulai memudar. Kekuasaannya yang semula membentang luas di seluruh nusantara. Ditambah semenanjung Malaka, Singapura, Brunai, Serawak, dan bagian Filipina Selatan. Sekarang tinggal wilayah jawa bagian tengah dan timur saja, yang masih dalam kontrol kekuasaannya.
Hayam Wuruk memang Raja cerdas, tetapi berkuasa sendiri tanpa didampingi orang besar macam Gajah Mada. Dia memerintah mewarisi wilayah yang cukup besar. Hanya 3 tahun. Hayam Wuruk Sangup merangkap jabatan sebagai Raja sekaligus sebagai Maha Patih Amangkhubumi semenjak kematian Gajah Mada. Karena merasa kewalahan mengemban tugas yang sedemikian berat sendirian. Akhirnya Hayam Wuruk, mengangkat gajah Enggon untuk menjadi Patih Amangkhubumi menggantikan Gajah Mada di Wilwatikta pada tahun 1367.
Tetapi biarpun jabatan Maha Patih Wilwatikta telah diisi oleh gajah Enggon. Ternyata tak bisa menggantikan perannya Gajah Mada. Gajah Enggon tidak sekuat dan setegas Gajah Mada. Wibawa negara menjadi merosot tajam. Satu persatu negara bawahan, bahkan di luar jawa melepaskan diri.
Bangkitnya kerajaan-kerajaan di Swarna Bumi, lepasnya kerajaan Pagarruyung Jambi, Palembang, Dharmasraya, Samudera pasai dan negeri-negeri seberang lainnya. bagaimana pun telah mempreteli kekuasaan bekas imperium maritim yang pernah berdiri puluhan tahun itu. Jalur perdagangan juga dipotong dan diblokir oleh negara yang melepaskan diri.
Pembagian wilayah
Pada masa pemerintahan sang Prabu Sri Rajasanegara Hayam Wuruk. Pemerintahan Majapahit terbagi menjadi dua belas wilayah. Diperintah oleh kerabat istana, yang bergelar bhatara disingkat bhre. Mereka adalah penguasa daerah setingkat adipati yang memiliki otonomi. Setiap tahun pada bulan Caitra mereka datang ke pemerintah pusat di Trowulan, menghadap sang Maha Raja Majapahit sebagai tanda sembah bakti. Ada pajak yang dipungut juga dari masing-masing daerah tersebut.
Ada 12 daerah di jawa yang diperintah oleh bhatara. Itu pun masih dibagi lagi menjadi beberapa wilayah yang lebih kecil. Semacam pendelegasian, wewenang, dan tugas ke daerah. Kepada para pejabat yang ditunjuk untuk mengenali wilayah masing-masing. Dengan kebijakan yang sejalan dan tidak bertentangan dengan kebijakan penguasa daerah yang lebih tinggi di atasnya.
Pertama daerah yang disebut Wantek di kepalai oleh seorang Wiyasa. Kedua, daerah yang disebut Wuwu di kepalai oleh seorang Akuwu. Ketiga, daerah yang disebut Wanua di kepala oleh seorang Thani. Keempat, daerah yang disebut Kebuyutan, merupakan desa kecil, tempat yang di sakralkan, atau di keramatkan yang di kepalai oleh seorang Buyut.
Selain dibagi menjadi dua belas daerah, yang di kepala i oleh seorang bangsawan tinggi setingkat adipati. Majapahit juga memiliki beberapa negara bawahan di luar wilayah jawa seperti tertera dalam negarakeretaagama. Namun, negara bawahan yang takluk dan tunduk kepada Majapahit itu jangan lantas diartikan sebagai negara jajahan. Bukan. Negara bawahan Majapahit di luar jawa pada waktu dulu lebih tepat disebut sebagai Pekongsian dan dengan perjanjian khusus bahwa negara bawahan yang bersangkutan di tidak boleh menjalin hubungan dengan negara lain. Diwajibkan pula mengirimkan upeti setiap tahun ke pemerintah pusat Majapahit di kota Raja Trowulan. Sebab, Majapahit tidak ingin menjajah, tapi hanya mengontrol seluruh perdagangan dan pelayaran di wilayah yang sudah ditentukan. Maka, setiap negara bawahan tidak diperlukan pendudukan pasukan dalam jumlah besar hanya menempatkan pembesar tinggi sebagai administrator.
Perombakan Sistem
Selamat berkuasa 38 tahun sejak penobatan nya sebagai Raja Majapahit menggantikan Ibu Sri Tribuanatunggadewi pada tahun 1351 hingga mangkat pada tahun 1389. Prabu Sri Rajasanegara Dyah Hayam Wuruk berusaha mempertahankan citra dan wibawa kekuasaannya. Namun, karena kehilangan orang kuat yaitu Gajah Mada, perlahan ia mulai kerepotan memegang kendali sendirian. Oleh karena itu, ia kemudian melakukan langkah-langkah berani dalam perubahan sistem pemerintahannya. kabinet pemerintahan segera dirombak.
Beberapa jabatan penting yang kosong segera diisi. Memindahkan tugas beberapa pejabat ke posisi yang lebih tepat sesuai dengan kapasitas kemampuan dan keahliannya. Jabatan strategis dan yang memerlukan loyalitas tinggi diisi oleh orang-orang yang dapat dipercaya. sebagian lagi juga memasukkan keluarganya sendiri Sri Karta Wardana ayahanda sendiri, yang diberi tugas memegang kekuasaan mengatur dan bertanggung jawab soal keamanan negara. Sri WijayaRajasa, sang mertua diberi tugas untuk mengatur urusan dalam negeri. Empu Kanakamuni diangkat sebagai pendeta agung sekaligus menjadi penasihat Raja. Empu Tandi diangkat menjadi wreddamantri, menteri tua. Empu Dami diangkat sebagai menteri muda. Empu Singa diangkat sebagai sekertaris kabinet.
Hubungan dengan Cina
Ketika Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada masih hidup. Hubungan imperium Majapahit dan kekaisaran Cina telah terputus. Cina enggan terhadap keperkasaan Majapahit. Oleh sebab itu, hampir tak berani “merecoki” atau mengganggu Majapahit. Namun, setelah Gajah Mada mati moksa pada tahun 1364, dan perlahan kerajaan Majapahit mulai surut pamornya. Maka, demi menjaga keseimbangan, apalagi kondisi Majapahit masih dalam tahap konsolidasi paska Gajah Mada, maka dengan kebesaran jiwa dan demi kepentingan jangka panjang, Raja Hayam Wuruk menjalin kembali hubungan dengan Cina yang sempat terputus.
Pada tahun 1368 Majapahit mengirim utusan persahabatan ke Cina. Namun, mereka tidak mengetahui bahwa telah terjadi perubahan besar di Cina. Dinasti Yuan yang semula berkuasa telah runtuh dan digantikan oleh Dinasti Ming dengan Hung Wu sebagai Kaisar. Berita jatuhnya Peking, ibu kota kekaisaran Cina itu, datang tatkala rombongan utusan Majapahit sudah meninggalkan kota Raja dan berada di daerah Fukien, di selatan Peking. Menteri Muda Empu Dami yang memimpin rombongan merasa perlu untuk kembali lagi ke Peking. Guna menyampaikan ucapan selamat, mewakili Raja Majapahit Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanegara.
Hal itu sangat menyenangkan hati Kaisar Hung Wu, yang akhirnya juga mengirim utusan persahabatan ke Majapahit. Sekaligus menyampaikan berita resmi atas pergantian kekuasaan dari Dinasti Yuan ke Dinasti Ming pada tahun 1370. Kedatangan utusan Cina ini disambut dengan gembira oleh Hayam Wuruk. Sebagai tindak lanjut hubungan persahabatan itu Majapahit kemudian membalas dengan mengirim utusan ke Cina lagi yaitu pada tahun 1375. tidak tanggung-tanggung Raja Hayam Wuruk mengirim utusan dengan membawa oleh-oleh berupa lempengan emas yang ditulis sebagai surat persahabatan, satu kapal khusus berisi hasil bumi beras gula pala wija rempah-rempah garam serta madu murni.
Tetapi hubungan persahabatan yang dibangun oleh Majapahit dengan dinasti Cina itu sesungguhnya bukanlah hubungan persaudaraan. Melainkan hubungan politik yang pasti mempunyai tujuan dan kepentingan tertentu. Dalam dunia politik ada adigum yang berlaku. Bahwa tidak ada teman abadi, yang ada hanya kepentingan sesaat dan bagaimana menerapkan strategi untuk meraih keuntungan jangka pendek dan panjang. Demikian pula halnya hubungan antara Majapahit dan Cina. Ternyata diam-diam kaisar sungguh bermain mata dengan negara-negara bahwa Majapahit. hal inilah yang membuat Hayam Wuruk kecewa.
Sementara para menteri dan panglima perang menjadi murka melihat Cina memandang rendah dan menginjak-injak harga diri kebesaran Majapahit. Perlahan namun pasti, muncul gerakan oposisi dari dalam pemerintahan yang tidak puas atas kebijakan Raja Hayam Wuruk. Dalam hal ini, kelompok oposisi mendapat dukungan penuh, baik finansial maupun moral dari orang kuat di istana yakni Sri Wijaya Rajasa. Dia sebelumnya menjabat sebagai Bhre Wengker. Namun, sekarang sebagai penguasa di Pamotan bergelar Bhatara Parameswara. Adalah mertua sang prabu Hayam Wuruk sendiri. Dengan demikian, sejarah masa lalu terulang lagi persatuan dan kesatuan negara Majapahit akan dipertaruhkan kembali.
KELEBIHAN
Novel yang berhasil menggambarkan zaman pada saat kerajaan Majapahit. Pembaca akan di suguhkan kerangka sejarah pada saat itu. Cerita sejarah dengan sudut pandang novel ini tentunya. Pembaaca juga akan di kayakan cakrawalanya tentang sejarah. Terutama pada Majapahit, yang untuk saat ini masih bisa di hitung jari. Karangan sastra yang merujuk pada sejarah di jawa.
KEKURANGAN
Banyak sekali tokoh yang di sebutkan, nama mereka pun disesuaikan dengan nama aslinya. Jadi, pembaca akan sedikit kesulitan untuk mengingatnya.
Tetapi, bila sedikit teliti membacanya akan faham juga. Karena di setiap tokoh-tokoh yang di cantumkan, di sertai dengan silsilahnya.
16.09.17
Tulunggung
16.09.17
Tulunggung
